FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBENTUK INTENSI BERWIRAUSAHA PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA BOGOR

Wirausaha kecil merupakan usaha rakyat yang telah menunjukkan keterandalannya dan memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan usaha menengah dan besar (Sapar, 2006) yang mampu menyerap tenaga kerja dan mampu berkontribusi mengurangi angka pengangguran. Wirausaha kecil bersifat luwes dalam usaha maupun kemampuan sumber daya manusianya, berperan sebagai penyedia barang-barang dengan harga relatif murah, memiliki efisiensi dan fleksibilitas usaha yang tinggi, serta keuntungan dapat diraih dalam waktu yang relatif pendek. Kelemahannya adalah Wirausaha kecil kurang memiliki kemampuan manajerial dalam pengembangan usaha. Sehingga wirausaha kecil hanya mampu survive (bertahan untuk hidup).
Kota Bogor sebagai kota satelit yang terakses langsung dengan ibukota negara, memiliki banyak pedagang kaki lima sebagai pelaku wirausaha kecil. Salah satunya adalah di Kawasan Jalan Suryakencana Bogor, sebagai sebuah kawasan yang padat dengan Pedagang Kaki Lima yang telah memberikan kontribusi nyata terhadap geliat perkembangan perekonomian Kota Bogor. Usaha mereka dijalankan hanya dengan mengandalkan intuisi dan peluang bisnis yang ada. Bahkan tidak jarang, usaha mandiri tersebut dijalankan sebagai kelanjutan dari bisnis yang sebelumnya telah dijalankan orangtua atau keluarganya. Sehingga hampir tidak terdapat “sentuhan” manajerial yang mumpuni dalam operasionalisasinya. Usaha mandiri dijalankan seolah penuh dengan ketidaksengajaan dan tidak adanya rencana. Bahkan sebagian pedagang menyatakan pilihan mereka untuk berwirausaha adalah untuk menghindari status pengangguran dan tidak memiliki penghasilan. Berjalannya dan atau berhasilnya usaha para pedagang kaki lima di kawasan tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya intensi atau minat berwirausaha (entrepreneurial intention) untuk menjalankan usaha masing-masing pedagang kaki lima.
Intensi berwirausaha (entrepreneurial intentions) menurut Katz dan Gartner (Indarti & Rostiani, 2008) yaitu proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembentukan suatu usaha. Seseorang dengan intensi untuk memulai usaha akan memiliki keyakinan diri (efikasi diri), kesiapan dan kemajuan yang lebih baik dalam usaha yang dijalankan dibandingkan seseorang tanpa intensi untuk memulai usaha. Seperti yang dinyatakan oleh Krueger dan Carsrud (Indarti & Rostiani, 2008), intensi telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan. Oleh karena itu, intensi dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha (Choo dan Wong dalam Indarti & Rostiani, 2008). Wijaya (2008), memberikan gambaran yang jelas dalam hasil penelitiannya, bahwa intensi berwirausaha berkontribusi nyata terhadap perilaku berwirausaha para pedagang kecil / UKM.
Pedagang kaki lima tidak akan bertahan untuk tetap berwirausaha, jika tidak memiliki minat berwirausaha, mengingat hambatan dan tantangannya yang begitu besar. Pedagang kaki lima yang memiliki minat berwirausaha yang kuat, jika memiliki kegagalan pada satu jenis usaha tertentu maka ia tidak menyerah dan berhenti begitu saja, namun ia akan tetap berwirausaha dengan mencoba dan berusaha pada jenis usaha yang lainnya.

DOWNLOAD PDF FILE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s