BIZ-Story : Bisnis Sate Beromset 30 juta per bulan

Pengusaha yang memiliki istri dan satu anak perempuan ini memang bisa dikatakan sukses, berawal dari usaha nekat merantau dari tempat asalnya Madura, pergi ke jakarta dengan bermodal penjualan 2 sapi orang tuanya, beliau mencoba untuk menjual sate. Pertamanya hanya ikut-ikutan teman, tetapi karena semangatnya untuk menjadi sukses, beliau pun tak kenal kata menyerah dengan dukungan dari istri dan anaknya. Mencoba membuka usaha pertama kalinya di Jakarta, awalnya memang sulit dan penuh cobaan. 3 Tahun pertama adalah masa-masa paling sulit dalam usahanya, karena usahanya tak berkembang akhirnya beliau memutuskan pindah ke Bogor dan pada ahun 1992 membuka cabang di Jl. Surya Kencana. Dimulai dengan mengontrak di tempat beliau berjualan sekarang (dulunya adalah kontrakan), akan tetapi beliau mengalami kesulitan karena yang mengontrak disana tidak nyaman dengan asap satenya, kemudian beliau akhirnya tidak boleh berjualan disana dan pergi berjualan di bawah (dekat perempatan tak jauh dari situ). Meskipun hanya lulusan Sekolah Dasar Islam, tekad kuatnya untuk terus membahagiakan keluarga yang ia sayangi tidak pernah pupus, hanya dalam 3 tahun sate yang di jual laku keras dan akhirnya ia dapat membeli kontrakan tersebut dan menjadikannya tempat usaha. Hingga saat ini, omsetnya sudah mencapai 30 juta/ bulannya belum lagi dari pesana cateringnya. Dan kini ia juga memiliki usaha yang lainnya yaitu juragan angkot dan sudah memiliki 7 angkot serta menjadikannya warung sate tersebut Rumah Makan (diluar omset penjualan satenya).Akhirnya ia pun dapat pergi haji bersama istrinya. Beliau dari dulu tinggal di daerah Kebun Kelapa pada awalnya mengontrak disana tetapi saat ini sudah menjadi miliknya dan membeli satu lagi tak jauh dari situ dan memiliki 2 rumah + tempat usahanya. Di masa tuanya kini ia hanya menikmati kesuksesnya dengan fokus kepada ibadahnya, LUAR BIASA…


Lalu apa kekuatan yang membuat usahanya bertahan selama 20 tahun ? pertama tentunya umur usahanya, karena sudah lama dan membuat orang-orang mengetahuinya. Tapi, jangan salah.. banyak orang Jakarta yang datang kesana hanya untuk menyicipi satenya yang tersebar melalui mulut kemulut, padahal di Jakarta pun ada hanya tidak terkenal seperti yang di Bogor yang merupakan pusatnya. Lalu, beliau menggunakan daging fillet (daging tanpa tulang) yang membedakan dari tukang sate sekitarnya. Lalu, lokasinya yang dipinggir jalan membuatnya mudah untuk dilihat. Di tambahnya pesanan untuk acara-acara penting meskipun tidak terlalu sering tapi cukup besar pesananya, bisa mencapai 50Kg daging per pesanannya bahkan pernah mencapai 100Kg.
Lalu apa sisi kelemahan usahanya ? bisa dilihat dari jumlah pegawainya yang hanya 6 orang dan peralatan yang kurang banyak, terkadang ketika pembeli ramai dan penuh banyak yang tidak sabar, padahal membakar sate setidaknya perlu 5 menit dan 2x bakar dan sekali bakar mungkin hanya memuat 40-50 sate. Ya, memang terlihat lama.. tapi ini demi mendapatkan rasa yang enak dan lezat. Bisa dibilang pelayanannya masih belum optimal, tapi ia rencana akan merenovasi tempat tersebut dalam kurun 2 tahun. Dari sisi pesaing, terlihat Warung Sate H. Mahrus lah yang terbesar di sekitar situ. Jadi, tidak terlalu masalah dari segi pemasaran.

Ditulis oleh : R.Harby Firmanto, Mahasiswa Tingkat 2 Manajemen Pemasaran Program D3 STIE Kesatuan Bogor

One thought on “BIZ-Story : Bisnis Sate Beromset 30 juta per bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s