Ketika PILPRES membuka Borok dan Topeng Rakyat Indonesia

KETIKA PILPRES MEMBUKA BOROK DAN TOPENG RAKYAT INDONESIA

Norman Duarte Tolle*

Sudah lama saya tidak menulis artikel dengan judul ‘menarik’ seperti ini. Saya pun sebenarnya bisa saja membuat tulisan ini lebih retoris, dengan bahasa-bahasa tinggi yang menggelitik intelektual, tetapi saya memilih untuk membuatnya sesederhana mungkin. Karena yang ingin saya sentuh adalah hati, bukan intelektualitas.

Rakyat Indonesia memasuki era paling baru dalam kehidupannya akhir-akhir ini. Kebebasan berbicara, terutama di social media, telah membawa rakyat indonesia ke sebuah tata nilai kehidupan yang sama sekali berbeda.

Jaman ini adalah jaman ketika semua orang berhak berkata, mengkritik, mengutarakan pendapat, berpolemik, dan hujat menghujat. Mau tidak mau, kita tidak bisa memungkiri hal ini. Fenomena Pilpres yang akhir-akhir ini sedang ramai pun membuka topeng kita semua.

Kita adalah saksi sejarah betapa fenomena Pilpres telah memperlihatkan sifat kita yang sebenarnya. Masing-masing orang dengan lantang mengatakan siapa Capres yang didukungnya melalui Social Media. Lalu dengan lantang pula menuliskan kehebatan-kehebatan Capres pilihannya. Dan lebih lantang lagi menguar kelemahan dan cacat Capres lawannya.

Rakyat Indonesia seolah-olah turut menjadi juru kampanye gratis bagi Capres pilihannya. Sungguh, peristiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam Pemilu di Indonesia. Tidak perduli kampanye gratis yang dilakukan para pengguna Socmed ini sesuai etika, aturan, dan norma. Yang pentiang jagoanku harus kelihatan hebat, dan lawan kelihatan busuk.

Sudah tidak ada lagi diskusi yang cerdas. Yang ada hanya ‘share’ link yang berisi berita-berita terbaik Capres andalannya, dan berita-berita terburuk lawan. Tidak diperhatikan lagi kebenaran berita, sumber, dan keabsahannya. Selama berita itu membuat Calon kesayangan terlihat bagus, maka akan di share. Selama berita itu membuat Capres lawan terlihat buruk dan inkompeten, maka berita-berita ini akan di share dengan penuh suka cita.

Apa yang terjadi sudah sampai kepada tahap yang menjenuhkan, dan menjijikkan. Tapi inilah bangsa Indonesia. Bangsa yang mengaku kaya raya, namun miskin karena pemimpin yang tidak baik. Sebuah alasan yang lucu, karena jika mau jujur sesungguhnya fenomena pilpres ini telah memperlihatkan sifat bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

Perhatikanlah sahabat kita yang dulu tenang, kini berapi-api mempromosikan capres pilihannya. Yang dulu santun, kini omongannya penuh makian dan cercaan. Yang dulu terlihat intelek, kini malah terlihat emosional. Semua tenggelam di dalam hura-hura politik, namun kehilangan substansi, kehilangan akal, kehilangan perasaan, kehilangan identitas. Tapi mungkin saya salah. Mereka TIDAK kehilangan ‘identitas’. Justru itu mungkin identitas mereka yang sebenarnya! Mungkin inilah identitas, sifat, dan pribadi yang sebenarnnya dari sebagian besar rakyat Indonesia. Sifat saya, sifat anda, dan sifat kita semua.

Kita adalah bangsa yang mau menang sendiri. Orang lain tidak boleh sukses. Jika bukan dari golonganku, atau pilihanku, maka harus dibantai dengan segala cara. Jika tidak menguntungkan bagiku maka harus dicerca habis-habisan, tanpa tahu sebab musabab dan alasan. Kita semua telah menjadi saksi bahwa hasil ‘bully’ di Twitter telah membuat seorang pemuda yang gagal dalam usahanya, akhirnya memilih bunuh diri di rel kereta api di Jogja.

Rakyat Indonesia adalah rakyat yang menginginkan kebaikan, hanya kepada dirinya. Orang lain tidak boleh melanggar lampu merah, hanya dirinya yang boleh. Orang lain tidak boleh korupsi, hanya dirinya dan keluarganya yang boleh. Orang lain tidak boleh memilih yang berbeda dengan dirinya. Siapa yang berbeda maka harus diberangus.

Bukankah ini semua tercermin dari bagaimana cara kita memuji dan menjelekkan Capres? Bukankah ini terlihat dari bagaimana kita nyinyir dengan teman kita sendiri yang berbeda pilihan. Segala perkataan yang menyakitkan hati dengan mudah kita tuliskan. Seolah-olah di dunia ini kita yang paling benar, paling pintar, paling jago analisa, paling menmgerti politik, paling tahu cara memilih pemimpin, paling tahu sisi kehidupan orang lain, paling sempurna rumah tangganya, paling cerdas argumennya, paling sukses dalam hidupnya, paling tidak punya dosa di masa lalu, paling bersih.

Kita.

Adalah cerminan dari seluruh perkataan dan perbuatan. Seseorang mungkin akan mengelak dengan berkata bahwa apa yang dituliskannya belum tentu mencerminkan isi hatinya. Argumen ini malah semakin memperlihatkan sifatnya. Apa sebutan bagi orang yang perkataannya berbeda, dengan isi hatinya? MUNAFIK. Ya itulah kata yang terbaik untuknya.

Kita.

Adalah bangsa yang selalu mencari kambing hitam ketika gagal, tanpa pernah mau bercermin terhadap kesalahan diri sendiri. Bangsa yang memaling-malingkan orang lain padahal dirinya sendiri maling. Yang mengkafir-kafirkan orang lain, padahal kita sendiri paling getol berbuat dosa. Yang paling suka menuduh orang lain korup, tetapi jika diberi kesempatan justru korupsi jauh lebih besar. Paling suka berkilah bahwa iman dan agama adalah urusan dirinya sendiri dengan Tuhan. Seolah-olah di dunia ini dia hanya hidup bersama Tuhan dan tidak hidup bersama orang lain.

Fenomena Pilpres ini telah memperlihatkan sifat kita, sifat sahabat-sahabat kita yang sebenar-benarnya. Telah memperlihatkan sifat buruk bangsa Indonesia. Dan saya, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, juga turut mengambil bagian di dalamnya.

Saya ingin mengetuk hati teman-teman, sahabat-sahabat, dan saudara-saudara saya yang tercinta. Marilah kita santun dalam bersikap. Bukankah kita paling tidak suka melihat orang yang tidak santun? Orang yang memaksa pendapat? Orang yang merasa paling benar? Mengapa sekarang kita sendiri menjadi orang sepert ini?

Bukankah kita bangga dengan ‘Bhinneka Tunggal Ika’? Tapi kita begitu bersemangat mencerca pendapat orang yang berbeda, pilihan orang yang berbeda. Jika ‘Bhinneka Tunggal Ika’ ini hilang dari bumi nusantara, siapakah yang harus disalahkan?

Agama mengajarkan kita santun, dan menghormati orang lain, bahkan musuh kita sendiri. Sudahkah kita mengasihi saudara atau bahkan musuh-musuh kita, seperti yang sering kita gembar-gemborkan dalam ayat yang kita tulis setiap saat di status facebook? Sudahkah kita berhenti menghakimi, karena menurut ayat, bukankah penghakiman hanya milik Tuhan?

Mari berkaca.

Capres siapapun, entah nomer 1 atau nomer 2, jika terpilih akan menjadi pemimpin kita ke depan. Apakah jika jagoan kita tidak terpilih, kita akan tetap memperlihatkan borok kita yang suka mengumpat, mencibir, menjelek-jelekkan? Jika iya, maka marilah, kita nikmati kehancuran Indonesia.

Saya, anda, kita, adalah penyebabnya.

Saya, anda, kita, adalah penyebabnya.

* Norman Duarte Tolle adalah penulis Novel, gitaris dari band C-Four, solo artist, clinician, composer, arranger, singer/songwriter, music instructor, penerjemah buku2 bahasa asing. Lahir di Ambon pada tanggal 16 Agustus. Ia membuat lagu2 tentang revolusi, gejolak politik, dan lain2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s